Informasi & Promosi

Dapatkan Informasi / Promosi Layanan Kesehatan RS. Mitra Kemayoran Dengan Mengisi Data Dibawah ini:


Headline

Melahirkan Caesar – Apa Yang Perlu Diketahui Calon Ibu

Melahirkan caesar adalah alternatif bagi mereka yang tidak ingin melahirkan secara normal. Konsep melahirkan caesar atau bayi hidup melalui pembedahan lewat dinding perut sebenarnya sudah ada sejak jaman prasejarah. Beberapa kepustakaan telah ditemukan pada cerita cerita rakyat, baik pada kultur Barat maupun Timur. Hampir semua cerita tentang kelahiran tersebut, dialami oleh para dewa atau pahlawan, tetapi ironisnya sang ibu digambarkan meninggal dunia setelah melahirkan.

Istilah operasi Cesar atau melahirkan caesar sendiri dipercaya karena mungkin Julius Cesar lahir melalui operasi, walaupun dikemudian hari ternyata ibunya masih hidup saat ia menjadi kaisar Romawi. Akhirnya istilah “caedere”yang berasal dari bahasa Latin yang berarti “memotong”. Anak anak yang dilahirkan dari ibu yang telah meninggal dunia dengan cara operasi disebut ” caesones”.

Francis Rousset memperkenalkan operasi melahirkan bayi pada seorang wanita hidup pada abad ke XVI. Pada abad ke XIX setelah ditemukannya zat anestesi yaitu diethyl-ether, operasi cesar banyak dilakukan, tetapi angka mortalitas hampir 100% karena teknik penjahitan otot rahim yang masih belum sempurna.
Baru pada tahun 1882, Max saenger memperkenalkan teknik menjahit otot rahim, dimulailah era operasi Cesar modern. Apalagi dengan ditemukannya obat antibiotika angka kegagalan operasi akibat infeksi menurun secara tajam.

FREKUENSI BEDAH CESAR
Hampir 4 juta kelahiran di Amerika Serikat pada tahun 1996 dimana 20% diantaranya dilahirkan lewat operasi Cesar. Saat ini di Amerika Serikat ada sedikit penurunan angka operasi cesar karena adanya penurunan operasi primer dan banyak yang melahirkan biasa pada kehamilan berikutnya setelah operasi Cesar pada kehamilan terdahulu.

INDIKASI
1.    Persalinan macet
2.    Gawat janin
3.    Kelainan letak janin (sungsang atau lintang)
4.    Persalinan pada bekas operasi Cesar

PERSIAPAN OPERASI
Persiapan operasi Cesar sama seperti operasi pada umumnya yaitu, pasien dipuasakan selama 4 jam sebelum operasi, pemeriksaan darah seperti darah tepi, pembekuan darah, golongan darah, gula darah, HbS Antigen dan sebagainya. Bayi dimonitor dengan alat cardiotokografi. Bila perlu diberikan obat corticosteroid dengan tujuan pematangan paru janin terutama bila kurang bulan ( kurang dari 37 minggu). Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa bayi cukup bulan yang lahir melalui operasi Cesar mempunyai risiko pernafasan yang lebih besar daripada yang lahir biasa. Pada bayi yang lahir melalui operasi Cesar tetapi sebelumnya telah masuk dalam fase persalinan, risiko ini berkurang karena setiap persalinan menlepaskan zat yang dinamakan catecholamines dan prostaglandin yang meningkatkan sekresi surfactant untuk pematangan paru janin.

Antibiotika biasanya diberikan untuk profilaktif terhadap infeksi, biasanya diberikan dosis tunggal kira kira 2 jam sebelum operasi. Kulit terutama ditempat operasi harus dicuci yang bersih dan kadang kadang dicukur, walaupun beberapa kepustakaan mengatakan bila terlalu lama akan menimbulkan infeksi kulit akibat luka akibat cukur.

Sebelum operasi biasanya dilakukan klisma untuk mengeluarkan sisa-sisa kotoran yang masih ada dalam usus besar sehingga tidak menimbulkan masalah saat operasi.

Persiapan yang tidak kalah pentingnya yaitu mengetahui status hemodinamik seperti pernafasan, kardiovaskuler, system pembekuan darah, persiapan darah, pemeriksaan darah seperti kadar gula darah, fungsi hati, ginjal dan pemeriksaan terhadap penyakit menular seperti hepatitis, HIV dll.

ANESTESIA PADA OPERASI CESAR
Sebelum ditemukannya anesthesia regional seperti spinal dan epidural, anesthesia umum sering digunakan pada operasi Cesar. Saat ini anesthesia umum masih merupakan pilihan bila operasi harus dilakukan sesegera mungkin karena pada anesthesia umum setidaknya lama waktu yang dibutuhkan untuk mencari ruang antar ruas tulang belakang ditiadakan. Anestesi umum juga dapat digunakan pada keadaan tertentu dimana anestesi regional merupakan kontraindikasi seperti gangguan pembekuan darah, sepsis, hipovolemia berat akibat perdarahan masif, kelainan pada tulang belakang dan riwayat operasi tulang belakang. Kerugian daripada anesthesia umum adalah hipotensi pada ibu dan depresi pernafasan pada bayi.

Anestesi regional seperti spinal dan epidural mempunyai keuntungan tidak mempengaruhi pernafasan bayi walaupun teknik lebih sulit  dan memakan waktu lebih lama daripada anesthesia umum. Tetapi anestesia regional mempunyai kerugian berupa dapat menyebabkan hipotensi pada 55% pasien yang dapat diatasi oleh pemberian vasopressor dan mengangkat kaki pasien. Selain itu sering penderita mengeluh sakit kepala karena kebocoran cairan spinal pada bekas lubang tusukan jarum. Keuntungan lain anastesia regional, pasien bisa menyusui dalam waktu yang tidak terlalu lama dan dapat makan minum, tidak seperti anesthesia umum yang membutuhkan waktu puasa sampai bising usus terdengar.

SAYATAN KULIT
Jenis sayatan pada kulit dipilih yang mempunyai akses optimal pada lapangan operasi, sehingga meminimalisasi angka morbiditas ibu, tetapi juga harus mempunyai efek kosmetik yang maksimal. Sampai tahun 1900 sayatan yang paling digemari pada saat itu adalah sayatan vertical. Pada tahun 1886 Kustner dan Rapin melakukan sayatan transversal, yang kemudian disempurnakan oleh Pfanenstiel. Saat ini sayatan vertical telah ditinggalkan dan haya dilakukan pada kondisi tertentu saja.

Sayatan vertical dilakukan karena akses ke lapangan operasi yang sangat baik disamping sayatan itu sendiri dapat diperluas ke atas kalau ditemukan komplikasi saat operasi. Sedangkan sayatan transversal dipercaya mengurangi nyeri pasca operasi dan mengurangi nyeri saat bernafas yang dalam. Disamping itu sayatan transversal mempunyai efek kosmetik yang sangat baik karena pengurangan tegangan antara tepi luka dan sayatan ini sejajar dengan garis kulit. Tetapi sayatan ini mempunyai kelemahan karena sering timbul risiko perdarahan dibawah lapisan kulit (suprafascial hematoma).

Gambar 1: Jenis sayatan pada kulit.

SAYATAN PADA DINDING RAHIM

Dahulu dilakukan sayatan longitudinal atau klasik yang memanjang dari atas ke bawah, tetapi karena sayatan ke atas mengenai otot rahim yang berkontraksi, sering pada kehamilan berikut, pasien mengalami robekan pada otot rahim (rupture uteri). Saat ini dengan kemajuan  teknik operasi, sayatan dilakukan secara transperitoneal profunda yaitu sayatan melintang di segmen bawah rahim dengan terlebih dahulu membuka pembatas rahim dengan kandung kencing (plika vesikouterina). Memang sayatan ini lebih sulit dan kadang meluas kesamping sehingga dapat melukai pembuluh darah (A.Uterina), tetapi risiko untuk rupture uteri dikemudian hari sangat sedikit.

Pada keadaan tertentu dimana dibutuhkan kecepatan untuk melahirkan bayi sayatan klasik masih digunakan, tetapi biasanya dilanjutkan dengan sterilisasi. Pada kehamilan premature dimana segmen bawah rahim belum terbentuk sempurna dilakukan sayatan longitudinal rendah, yaitu seperti sayatan klasik hanya letaknya mendekati segmen bawah rahim.

Gambar 2: Sayatan Klasik

Gambar 3: Sayatan transfersal

MELAHIRKAN BAYI

Bayi dilahirkan dengan cara meluksir kepala dengan tangan (penolong) atau dengan ekstraksi vakum atau forseps ringan. Pada letak sungsang atau lintang bayi dilahirkan dengan ekstraksi pada kaki atau bokong.

Segera setelah bayi dilahirkan yang harus mendapat perhatian adalah saluran pernafasannya, harus segera dibersihkan dari lender dan darah yang terhirup oleh bayi. Setelah saluran pernafasan bersih baru dilakukan upaya supaya bayi mengangis. Talipusat diikat dan dipotong dan selanjutnya bayi diserahkan kepada tim bayi baru lahir. Plasenta dilahirkan dengan tarikan ringan atau secara manual, tempat implantasi plasenta diperiksa secara seksama untuk mengetahui apakah ada sisa plasenta atau selaput ketuban yang tertinggal atau tidak. Selanjutnya dinding rahim dijahit dan kontraksi rahim diperhatikan. Keadaan saluran dan indung telur dinilai secara seksama pada kedua sisi.

Gambar 4:  Melahirkan kepala bayi

Gambar 5 : Melahirkan kepala dengan bantuan dorongan pada fundus uteri.

Gambar 6: Melahirkan plasenta dengan cara manual.

PERSALINAN PADA BEKAS SC
Ada banyak keuntungan yang didapatkan pada persalinan biasa setelah pada persalinan terdahulu dilakukan operasi Cesar, diantaranya adalah pemulihan yang lebih cepat, perawatan di RS yang lebih singkat, infeksi pasca persalinan yang lebih sedikit, dan perdarahan yang lebih sedikit sehingga kebutuhan tranfusi darah otomatis menjadi lebih sedikit. Tetapi disamping itu ada beberapa risiko yang harus diketahui pada persalinan bekas SC diantaranya bahaya rupture uteri atau robeknya rahim terutama pada bekas sayatan klasik. Beberapa penelitian menunjukkan angka !% frekuensi terjadinya rupture uteri pada bekas SC. Beberapa factor yang mempengaruhi kejadian rupture uteri pada persalinan bekas SC adalah : pasien telah lebih dari sekali dilakukan operasi Melahirkan  Caesar, makin tua umur pasien, makin pendek jarak melahirkan, adanya demam pada persalinan terdahulu, induksi partus, kelainan bentuk rahim(?) dll.

BEBERAPA PERTANYAAN YANG SERING DILONTARKAN PASIEN

1.    Berapa lama setelah operasi boleh makan, duduk, menyusui bayi?
Jawab:  Bila dilakukan anesthesia regional boleh makan segera setelah tidak mual dan bila anesthesia umum sampai bising usus terdengar biasanya 24 jam setelah operasi, menyusui bayi bisa dilakukan sesegera mungkin, sedangkan duduk pada anesthesia regional setelah 18 jam.

2.    Apakah bisa minum obat China setelah operasi.
Jawab:   Sebaiknya bila ada tendensi perdarahan, obat obat tersebut dihindari karena sifat obat  yang memiliki khasiat vasodilator.

3.    Apakah pada waktu Cesar bisa sekalian dilakukan operasi pengecilan perut?
Jawab :  Kalau sekedar lipectomy mengangkat lemak sekitar luka bias dilakukan tetapikalau mau mengangkat lemak yang lebih luas diperlukan bedah  Plastic dank arena perut masih menyusut, sebaiknya dilakukan pada 40 hari setelah melahirkan, demikian pula halnya dengan aginoplasty,                           kalau kolporafi yang sifatnya luas sebaiknya setelah 40 hari.

4.    Apakah kalau sekalian sterilisasi akan mengganggu aktivitas seksual?
Jawab :   Tidak, karena yang dipotong/diikat hanya saluran telur bukan indung  telur.

5.    Berapa kali operasi Cesar bisa dilakukan?
Jawab:   Sebaiknya tidak lebih dari 3 kali, walaupun penulis pernah melakukan
sampai 5 kali dan saat ini pasien sehat, tetapi hal ini  tidak dianjurkan.

6.    Apakah operasi Cesar dapat menyebabkan kematian?
Jawab :    Bisa, oleh karena itu harus dilakukan informed consent terlebih dulu.

7.    Apakah tranfusi darah rutin diberikan?
Jawab :     Tidak, kecuali pada penderita perdarahan, rupture uteri, janin kembar
dll.

8.    Kapan hubungan kelamin bisa dilakukan setelah operasi cesar?
Jawab :     sama seperti melahirkan biasa sebaiknya hubungan kelamin dilakukan    setelah selesai masa nifas kira kira 6-8 minggu setelah operasi.

Jakarta, 26 Oktober 2006.

KEPUSTAKAAN.

1.    Gilstrap III LC, Cunningham FG and Vandorsten. Operative Obstetrics,2nd      ed.McGrawhill,2002: 257-276.
2.    Lee-Parritz A, Surgical techniques for Cesarean delivery: What are the best practice?, Clin.Obstet-Gynecol,2004,vol47,No.2:268-298.
3.    WickwireJC and Gross JB.From Preop to Postop: Cesarean Delivery From Anesteshiologist’s Point of View,Clin Obstet-Gynecol,2004, Volume 47, Number 2 :299-316.
4.    Doherty EG and Eichenwald EC. Cesarean Delivery: Emphasis on the Neonate. Clin.Obstet-Gynecol,2004, vol47,No.2:332-341.
5.    Shipp TDTrial of Labor After Cesarean: So, What Are The Risks?, Clin.Obstet-Gynecol,2004,vol 47, No.2:365-377.

Dr. Yahya Darmawan, SpOG
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi  RS Mitra Kemayoran, Jakarta

4 Responses to “Melahirkan Caesar – Apa Yang Perlu Diketahui Calon Ibu”

  1. avatar Yuliana says:

    Sy sedang hamil minggu ke 23 anak keempat,riwayat ketiga anak sebelumnya caesar. Apa msh bs melahirkan normal?kalupun hrs caesar berbahayakah?persiapan apa yang harus sy lakukan jelang persalinan?terima kasih

    • Bila sudah dilakukan operasi caesar sebanyak 3 kali, biasanya anak ke empat tidak akan dianjurkan untuk melahirkan secara normal dan biasanya dianjurkan untuk dilakukan operasi caesar kembali. Persiapan menjelang kehamilan agar rahim anda tetap baik, kami anjurkan anda untuk tetap melakukan senam kehamilan agar otot-otot panggul bagian bawah anda tetap baik. Juga melalui senam kehamilan ini, diharapkan otot-otot rahimpun bisa di kuatkan agar bisa berkontraksi dengan sempurna untuk mencegah perdarahan setelah melahirkan. Pemeriksaan kandungan secara teratur ke dokter spesialis kandungan juga akan sangat mmembantu mendeteksi secara dini bila terjadi kelainana dan penyulit-penyulit lainnya. Bila anda tetap menginginkan kelahiran secara normal, kami anjurkan anda untuk mengkonsultasikan dahulu dengan dokter spesialis kandungan anda, untuk menanyakan apakah kondisi anda layak untuk melahirkan secara normal. Karena dokter kandungan andalah yang tahu secara persis riwayat dan kondisi anda dan kondisi kandungan anda seutuhnya. Terima Kasih

  2. avatar dian says:

    Kl posisi janin msh lintang, usia khamilan 36 week apakah msh ada kmgkn bayi lahir normal? Jika sc dan ingin memilih tgl lhir,sebaiknya stlh janin berusia brp week?

    • Kemungkinan untuk lahir normal dengan posisi lintang pada usia kehamilan 36 mgg memang kecil, kemungkinan akan dilahirkan dengan SC. Dan untuk pemilihan tanggal lahir psds kelahiran SC, biasanya bisa ditentukan setelah usia kehamilan 38 mgg. Terima Kasih


Leave a Reply


+ 4 = ten