Informasi & Promosi

Dapatkan Informasi / Promosi Layanan Kesehatan RS. Mitra Kemayoran Dengan Mengisi Data Dibawah ini:


Headline

Nyeri Sendi – Mengatasi Nyeri Sendi Anggota Gerak Bawah

Apakah Nyeri itu ?
Nyeri adalah sensasi yang tidak menyenangkan dan respons emosional terhadap stimulus yang dihubungkan dengan kerusakan jaringan.

Nyeri selalu merupakan pengalaman subyektif, dan mempunyai satu dan hanya satu fungsi yaitu mengingatkan kita akan bahaya.

Apakah Penyebab Nyeri Sendi Anggota Gerak Bawah ?
Nyeri sendi dapat disebabkan oleh peradangan, cedera, patah tulang, proses degenerative, gangguan suplai pembuluh darah dan lain-lain.

Apakah Nyeri Sendi Anggota Gerak Bawah Hanya Berasal dari Kerusakan Struktur Tulang saja ?
Nyeri sendi anggota gerak bawah dapat berasal dari kerusakan struktur jaringan sendi itu sendiri yaitu tulang rawan sendi, sinovial (pembungkus sendi), meniskus (bantalan sendi), ligamen (jaringan pengikat sendi), dan tendon (otot yang menempel di tulang). Bahkan nyeri yang dirasakan di sendi tersebut juga dapat merupakan nyeri rujukan dari tempat lain.

Apa Tujuan Penanganan Nyeri Sendi Anggota Gerak Bawah ?
Tujuannya adalah mengembalikan status fungsional penderita ke level yang optimal sehingga penderita dapat melakukan aktifitas sehari-harinya dengan keterbatasannya akibat nyeri dan keterbatasan fisiknya.

Apa Penanganan Nyeri Sendi Anggota Gerak Bawah Cukup Dengan Pemberian Obat ?
Penanganan rehabilitasi nyeri sendi anggota gerak bawah juga memperhatikan anatomi dan problem biomekanik tubuh, tidak hanya pada sendi yang sakit, tetapi juga melihat secara keseluruhan baik dari sendi panggul, paha, sendi lutut, betis, sendi pergelangan kaki dan kaki, bahkan keseluruhan tubuh termasuk tungkai sisi yang satunya, kesimetrisan bahu dan tulang belakang, baik secara statis dan dinamis, seperti saat berdiri, berjalan, naik tangga atau melakukan aktifitas fisik lainnya.
”Disfungsi akan menyebabkan disfungsi”. Jadi, tanpa memperhatikan hal tersebut di atas, pengobatan atau tindakan apapun yang diberikan (termasuk penderita yang telah menjalani operasi), maka keberhasilan terapi tidak akan tercapai, dikemudian hari nyeri akan terulang bahkan dapat menimbulkan disfungsi di struktur atau organ lain.

Bagaimana dengan Tes Diagnostik ?

Tes diagnostik seperti pemeriksaan rontgen, MRI dll, harus selalu didasarkan pada penemuan klinik. Jangan mengulang pemeriksaan yang telah dialkukan, kecuali memang bermanfaat. Interpretasi hasil pemeriksaan diagnostik harus ada relevansinya dengan riwayat klinis dan pemeriksaan fisik. Jadi jangan meyebutkan penyakitnya berdasarkan foto rontgen atau MRI.

Apa Yang Harus Dilakukan Saat Nyeri Sendi Anggota Gerak Bawah Fase Akut ?

Penanganan fase akut ditujukan untuk meminimalkan efek peradangan dan mengontrol nyeri, dengan mengikuti prinsip PRICE (Protection, Relative rest, Ice, Compression, Elevation).  Dapat diberikan obat anti radang dan terap dingin.

Terapi nyeri dengan transcutaneus electrical nerve stimulation (TENS) atau Interferential, akan sangat bermanfaat jika memperhatikan metode pemberian stimulasi, parameter, arus kelistrikan yang digunakan yang disesuaikan dengan kondisi nyeri dan patofisiologi nyerinya. Proteksi sendi disesuaikan dengan kondisi patologis yang terjadi. Contoh : pada kasus cedera jaringan pengikat lutut (MCL), proteksi sendi dilakukan dalam posisi lutut menekuk 20-30°, pada kasus memar otot  paha depan, proteksi dilakukan dengan lutut menekuk sesuai toleransi maksimal.

Bagaimana Dengan Pemberian Modalitas Terapi Lainnya ?

Modalitas terapi lainnya seperti ultrasound diathermy, short wave diathermy, low level laser diberikan sesuai indikasi dan kontraindikasi, dengan memperhatikan biofisika peralatan dan geometri jaringan tubuh. Kegunaan modalitas tersebut antara lailn untuk membantu penyembuhan jaringan tubuh. Kegunaan modalitas tersebut antara lain untuk membantu penyembuhan jaringan, mengurangi nyeri, mengurangi perlengketan jaringan dan melenturkan jaringan.

Bagaimana Dengan Program Latihan Fisik ?

Program latihan fisik yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi penyakitnya, diberikan dengan cara yang benar dan dosis yang benar dengan memperhatikan kinesiologi dan biomekanika tubuh.
Pertama, rehabilitasi ditujukan untuk mengembalikan gerakan sendi dan fleksibilitas serta mengidentifikasi ketidakseimbangan biomekanik yang masih dapat dikoreksi. Latihan peregangan bertujuan untuk mengembalikan jaringan lunak termasuk otot dan tendon ke panjang yang normal dan dilakukan sebatas nyeri dan harus denga tehnik yang tepat. Terapi manipulasi dan pemijatan friction juga membantu melepaskan perlengketan jaringan.
Selanjutnya, rehabilitasi ditujukan untuk mengoreksi ketidakseimbangan biomekanik, yang bertujuan untuk mengembangkan gerakan dan kekuatan secara simetris.
Latihan penguatan otot dapat diberikan dengan beberapa cara yang harus disesuaikan dengan kondisi patologis  yang mendasarinya dan tidak membebani sendi secara berlebihan. Latihan penguatan otot dapat berupa isometrik, isotonik, konsentrik dan eksentrik. Latihan penguatan otot secara eksentrik mulai dilakukan jika pasien bebas nyeri dan kekuatan konsentrik hampir tercapai penuh.
Latihan penguatan otot secara konsentrik dan eksentrik secara progresif harus dilakukan dengan hati-hati, gerakannya secara halus tanpa substitusi otot lain. Harus dihindari latihan penguatan otot secara eksentrik dengan beban maksimal ataupun supramaksimal.
Latihan ”Closed Kinetic Chain” adalah latihan yang menguatkan otot agonis dan antagonis secara bersamaan dan merupakan latihan yang lebih fisiologi untuk anggota gerak bawah.
Untuk mendapatkan hasil yang optimal dan mencegah berlanjutnya cedera, harus diperhatikan pada sudut sendi berapa latihan tersebut dilakukan.
Latihan berjalan diajarkan sesuai dengan pola jalan yang normal, pertama dengan alat bantu kemudian bertahap sampai tanpa alat bantu.

Bagaimana Dengan Alat Bantu Jalan atau Ortotik Lainnya ?

Alat bantu jalan seperti cane, cruth, walker digunakan untuk mengurangi beban tekanan pada sendi. Sepatu dengan alas khusus dan alat penyanggah sendi (korset, brace) diberikan untuk mengoreksi ketidakseimbangan biomekanik yang tidak dapat dikoreksi oleh program peregangan dan penguatan yang spesifik.

Bagaimana Dengan Latihan Kebugaran dan Aktifitas Fungsional Sehari-hari ?

Latihan kebugaran umum disesuaikan dengan kondisi yang ada dan dilakukan dengan cara dan dosis yang tepat. Dianjurkan latihan berjalan di dalam air, karena dengan adanya daya apaung air beban tekanan di sendi akan berkurang.

Pengembalian ke aktifitas fungsional sehari-hari yang normal dilakukan dengan memakai prinsip. Aktifitas yang akan dikerjakan harus disetujui oleh penderita dan merupakan aktifitas yang penting bagi mereka, menganalisa pekerjaan untuk penyesesuaian aktifitas, konservasi energi, aktifitas fungsional yang dilakukan dimulai perlahan-lahan dan ditingkatkan secara bertahap, serta membuat catatan aktifitas untuk memonitor kemajuan.

Bagaimana Dengan Faktor Psikososial ?

Kadang penderita dengan nyeri sendi kronis, menunjukkan ”pain Behaviour”, dimana pembicaraannya sering terfokus pada nyeri, terapi dan keterbatasan fisik yang berhubungan dengan nyerinya.
Dengan berlalunya waktu, anggota keluarga pun akan mengubah tingkah lakunya dalam mengadaptasi nyeri kronis penderita. Anggota keluarga akan memberikan perhatian yang kurang atau berlebihan terhadap keluhan nyeri penderita, mengambil alih pekerjaan rumah penderita, sehingga ”Secara Tidak Sadar” keluarga akan menambah problem ”pain behaviour” penderita.
Tidak jarang pula, penderita mengambil sikap ”Secondary Gain (Mengambil Keuntungan) baik secara psikososial dan ekonomi.
”Behavioral Modifer”  / ”Cognitive Behavioral Approach” berguna untuk pasien dengan nyeri kronis. Prinsipnya adalah mengubah pikiran dan tingkah laku seseorang untuk memperbaiki penyesuaian dirinya terhadap nyeri. Dalam hal ini diperlukan kemauan penderita untuk ”Siap untuk Berubah”

Kesimpulan

Keberhasilan penanganan nyeri sendi anggota gerak bawah tergantung dari diagnosis dan program rehabilitasi yangtepat, serta dipahami oleh penderita dan keluarganya.

Dr. Satrio Tjondro, SpKFR


Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

RS Mitra Kemayoran

Leave a Reply


2 − one =