Informasi & Promosi

Dapatkan Informasi / Promosi Layanan Kesehatan RS. Mitra Kemayoran Dengan Mengisi Data Dibawah ini:


Headline

Mengobati Ngorok – Pencekik di Tengah Malam

Mengobati ngorok harus segera dilakukan jika ini terasakan sangat mengganggu. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemui rekan atau keluarga yang sering mengantuk, tampak selalu lelah, ceroboh, lamban dan tidur ngorok atau mendengkur. Karakter seperti ini, sering menjadi bahan lelucon dan dianggap lucu. Bahkan tak jarang orang-orang seperti ini dianggap pemalas dan kurang berkompeten dalam pekerjaannya. Tapi tahukah Anda bahwa mereka kemungkinan besar menderita sleep apnea, dimana penderitanya tercekik setiap malam hingga tak bisa bernafas dalam tidur?

Obstructive Sleep Apnea

Sleep apnea adalah sebuah gangguan tidur yang berarti henti nafas saat tidur dengan gejala utama ngorok / mendengkur dan rasa kantuk berlebih. Menurut Young dan kawan-kawan, sleep apnea diderita oleh 4% populasi pria dan 2% wanita di Amerika. Bukan angka yang kecil. Coba saja lihat ke sekitar kita, berapa orang yang Anda kenali sebagai pendengkur?

Epsiode henti nafas disebabkan oleh penyempitan jalan nafas. Pada saat tidur, organ-organ lunak di jalan nafas melunak hingga terjatuh dan menyempitkan saluran. Sering kali penyempitan menyebabkan sumbatan sehingga udara tak dapat lewat. Jadi walaupun gerakan nafas tetap ada, pertukaran udara tidak terjadi. Akibatnya si penderita seperti tercekik, dan karena sesaknya, tubuh otomatis membangunkan otak. Sayangnya episode bangun yang dialami berlangsung amat singkat (micro arousal) sehingga si penderita tidak tahu dirinya terbangun-bangun sepanjang malam. Yang ia tahu, ia bangun dengan rasa tidak segar dan mudah mengantuk di siang harinya.

Akibat Sleep Apnea

Karena proses tidur yang terpotong-potong, penderita sleep apnea akan selalu berada dalam kondisi kurang tidur, walaupun sebenarnya telah tidur cukup lama. Mereka akan merasa lelah, mudah emosi, sulit berkonsentrasi dan mengantuk. Bayangkan saja bagaimana rasanya jika kita tadi malam hanya tidur 2 jam. Persis seperti itulah yang dirasakan penderita sleep apnea. Hanya saja, kita mengalaminya setelah kurang tidur, sedangkan pendengkur akan merasakannya setiap hari. Tentu saja kondisi ini akan mengurangi kualitas hidup dan produktivitas sehari-hari. Khusus bagi yang setiap hari mengendara dan mengoperasikan alat-alat berat, kondisi ini akan menjadi amat berbahaya. Bukan saja karena kantuk, tetapi justru karena kemampuan refleks yang berkurang.

Namun, bahaya sesungguhnya dari sleep apnea adalah penyakit-penyakit lanjutannya.  Sleep apnea sudah diakui menjadi salah satu penyebab hipertensi, gangguan jantung, diabetes dan stroke. Hingga tak heran jika di negara-negara maju, tata laksana penyakit-penyakit itu sudah memasukkan pemeriksaan dan perawatan sleep apnea.

Hipertensi misalnya, sejak tahun 2003, Joint National Committe on Hypertension mengeluarkan dokumen petunjuk tata laksana hipertensi yang dikenal dengan JNC VII. Dalam kartu tersebut terdapat bagan perawatan hipertensi, dan disebutkan bahwa penyebab hipertensi yang pertama adalah sleep apnea. Jangan heran nanti jika Anda didiagnosa dengan hipertensi, dokter juga akan menanyakan tentang kebiasaan mendengkur. Sementara sejak Februari 2008, International Diabetes Federation sudah menganjurkan agak penderita diabetes turut ditanyakan tentang kebiasaan mendengkur.

Hubungan antara sleep apnea dan penyakit-penyakit tersebut, berkaitan dengan episode bangun singkat yang terjadi sepanjang malam. Akibat dari proses tidur yang terpotong-potong, sistem saraf simpatis turut tinggi aktivitasnya sehingga meningkatkan tekanan darah, denyut jantung dan menyebabkan gangguan metabolisme berupa meningkatnya kadar gula dan kekentalan darah.

Tata Laksana Mengobati Ngorok

Pertama, seorang pendengkur harus diperiksa terlebih dahulu di klinik gangguan tidur. Di sana ia akan diminta untuk menjalani pemeriksaan tidur dengan menggunakan alat Polysomnography (PSG) di laboratorium tidur. Di samping itu, pemeriksaan THT secara seksama juga diperlukan.

Di laboratorium tidur berstandar internasional pasien direkam fungsi-fungsi tubuhnya selama tidur sehingga didapatkan gambaran secara umum. Yang direkam adalah aliran udara, gelombang otak, fungsi-fungsi pernafasan dan jantung, serta posisi tidur. Dari perekaman akan didapatkan derajat henti nafas seseorang yang dihitung dari jumlah rata-rata henti nafas perjam atau Apnea Hypopnea Index (AHI.) Dimana AHI <5/jam berarti ia hanyalah pendengkur tanpa henti nafas, henti nafas 5-15 kali perjam sleep apnea ringan, 15-30 adalah sedang dan lebih dari 30 perjam berarti berat.

Dari pemeriksaan ini baru diketahui arah perawatan. Standar perawatan sleep apnea adalah dengan menggunakan masker hidung yang dihubungkan dengan alat CPAP (Continuous Possitive Airway Pressure.) Sedangkan langkah lainnya adalah lewat pembedahan. Tapi terkadang, pasien juga ada yang membutuhkan keduanya.

Dr. Andreas Prasadja, RPSGT
Sleep Disorder Clinic – RS. Mitra kemayoran

Leave a Reply


four − 1 =