Informasi & Promosi

Dapatkan Informasi / Promosi Layanan Kesehatan RS. Mitra Kemayoran Dengan Mengisi Data Dibawah ini:


Headline

Nyeri Kronis – Pengobatan Dengan Radiofrekuensi (Pain Management)

Nyeri kadang membuat kita menjadi tidak nyaman. Kini dengan radiofrekuensi nyeri bisa diatasi tanpa ada kelainan fungsi syaraf.
Hampir dapat dikatakan bahwa semua orang pernah mengalami nyeri. Menurut “International Association for the Study of Pain,”  nyeri didefinisikan sebagai ”an unpleasant sensory or emotional experience associated with actual or potential tissue damage, or described in  term of such damage”(IASP 1979). Persepsi nyeri selalu bersifat subyektif.  Nyeri bisa disebabkan oleh kerusakan jaringan dan bisa tidak. Oleh karena itu pengalaman nyeri mempunyai aspek multidimensi : biologis, psikologis dan sosial.

Nyeri dapat dibedakan menjadi nyeri akut, kronis yang tidak berhubungan dengan keganasan (non malignant) dan kronis yang berhubungan dengan keganasan (malignant). Ketiga jenis nyeri ini berbeda penyebab, gejala dan terapinya. Nyeri akut dicirikan penyebabnya jelas, timbulnya cepat dan waktunya terbatas. Sedang nyeri kronis didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung lebih dari 6 bulan atau nyeri yang berlangsung lebih dari yang diharapkan. Nyeri kronis dan menetap menimbulkan banyak masalah psikologis dan sosial. Di negara Australia, Canada dan Amerika diperkirakan 10 persen populasi mengalami nyeri kronis.

Ada berbagai macam cara pengobatan nyeri mengingat penyebab nyeri multidemensi dan ini memerlukan penanganan yang menyeluruh. Secara garis besar terapi nyeri meliputi: terapi farmakologis (dengan obat-obatan yang diminum), blok syaraf , terapi fisik (fisioterapi), psikoterapi, akupuntur, terapi bio feed back, terapi relaksasi dan gabungan dari 2 atau lebih cara pengobatan diatas.  Radiofrekuensi dapat digolongkan ke dalam blok syaraf, karena bekerja dengan merubah hantaran syaraf nyeri.

Dua jenis radiofrekuensi
Radiofrekuensi adalah energi listrik dengan ciri khusus. Listrik yang kita pakai sehari-hari di rumah memakai frekuensi 50/detik. Sedang pada radiofrekuensi, frekuensi yang dipakai jauh lebih tinggi yaitu 500.000/ detik.

Radiofrekuensi ini sudah lebih dari 30 tahun dipakai untuk menangani  nyeri.   Jarum yang dipakai dirancang khusus dan diposisikan dekat dengan syaraf yang menyebabkan  nyeri.  Dengan bantuan sinar X  jarum dapat diposisikan dengan akurat. Setelah itu arus listrik radiofrekuensi dialirkan melalui jarum tadi sehingga ujung jarum menjadi panas. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan pada syaraf sangat selektif dan sedikit yang cukup untuk menghilangkan nyeri tanpa adanya kelainan fungsi.

Akhir-akhir ini dikembangkan alat  radiofrekuensi berdenyut (Pulsed radiofreqwency ) untuk menyempurnakan alat radiofrekuensi yang kontinyu. Arus listrik yang dipakai sama, namun arus  tidak dipakai terus menerus, melainkan berupa burst pendek dua kali perdetik sehingga ada waktu jeda untuk mencegah terjadi  panas berlebihan. Dengan tehnik ini panas yang terjadi tidak melebihi 42 derajat Celcius karena antara 43–45  derajat Celcius syaraf akan rusak menetap dan pada ujung jarum akan timbul medan listrik yang sama sekali tidak merusak syaraf.  Karena pengaruh medan listrik ini perilaku syaraf berubah  sehingga tidak dapat menghantarkan  nyeri.

Sebelum melakukan pengobatan ini harus diketahui dengan benar syaraf yang mana yang akan diterapi dengan radiofrekuensi. Caranya dengan menggunakan blok diagnostik  yaitu  syaraf yang menyebabkan nyeri diberi anestesi lokal dan  bila tepat lokasinya nyeri akan hilang selama beberapa jam. Sebaliknya bila suntikan pada syaraf tersebut tidak menghilangkan nyeri berarti hasilnya negatif, sehingga tidak ada manfaatnya dilakukan  terapi radiofrekuensi.  Suntikan  anestesi lokal dapat menyebabkan kesemutan dan kelemahan pada tungkai atau lengan namun hal ini akan menghilang seiring dengan masa kerja obat anestesi lokal. Pada waktu itu mungkin nyeri mulai terasa lagi.

Kerja sama dokter-pasien selama terapi
Kerjasama antara dokter dengan pasien setelah tindakan blok diagnostik sangat penting. Hanya pasienlah yang dapat memberitahu apakah nyeri masih ada atau sudah hilang. Dengan   melakukan gerakan-gerakan   atau menekan  tempat tertentu yang biasa menimbulkan nyeri  pasien dapat memberikan informasi yang berarti bagi dokter. Harus disadari bahwa blok diagnostik ini dilakukan untuk mencari informasi mengenai struktur tulang belakang dan syaraf yang menyebabkan nyeri, bukan untuk meramalkan hasil terapi radiofrekuensi. Hal ini disebabkan karena   mekanisme radiofrekuensi sangat berbeda dengan anestesi lokal.

Bila diagnosa sudah ditegakkan dengan benar, terapi radiofrekuensi  sesungguhnya baru dilakukan. Biasanya terapi dilakukan minimal sehari sesudah dilakukan blok diagnostik. Mengapa demikian? Terapi tidak mungkin dilakukan pada saat syaraf masih terpengaruh oleh anestesi lokal. Karena untuk menentukan dengan tepat lokasi syaraf penyebab nyeri di samping mempergunakan sinar X juga menstimulasi syaraf tersebut yaitu memakai arus kecil yang dilewatkan melalui jarum sehingga menimbulkan perasaan seperti kena listrik ringan.

Pada tahap ini kerjasama pasien untuk memberitahu saat tubuh pertama kali merasakan stimulasi sangat penting, karena dokter harus tahu  berapa intensitas arus yang menimbulkan stimulasi tersebut.  Hal ini diperlukan untuk mengetahui jarak  ujung jarum dengan syaraf.

Pada waktu pengobatan dengan radiofrekuensi berdenyut sangat jarang timbul nyeri dan kontraksi otot. Bila terjadi hal demikian dokter harus diberitahu. Umumnya setelah ini tidak diperlukan suntikan anestesi lokal lagi, sehingga tidak terjadi perasaan kebal pada tungkai atau lengan seperti halnya setelah blok diagnostik.

Setelah terapi: kontrol
Ada beberapa hal yang perlu diketahui setelah terapi radiofrekuensi berdenyut. Seperti telah disebutkan diatas, mekanisme radiofrekuensi berdenyut merubah perilaku syaraf, tapi ini memerlukan waktu. Selama 4 minggu pertama setelah pengobatan  bisa terjadi beberapa kemungkinan.  Nyeri bisa hilang langsung tanpa kambuh. Kadang kadang seminggu sampai dua minggu  setelah terapi,  nyeri bisa sedikit meningkat sebelum akhirnya nyeri hilang. Oleh sebab itu kontrol pertama setelah terapi biasanya diperlukan setelah empat minggu.

Hal yang perlu diketahui adalah setelah  suatu tahap  pengobatan, nyeri dapat kembali lagi. Hal ini disebabkan perubahan syaraf oleh  radiofrekuensi berdenyut  tidak permanen. Bila tidak ada aliran listrik lagi pada syaraf, secara bertahap keadaan kembali seperti semula dan prosedur harus diulangi lagi. Lama perubahan ini bersifat perorangan. Pada sebagian besar pasien perubahan ini berkisar antara empat bulan sampai beberapa tahun.
Apakah bisa terjadi komplikasi? Metode radiofrekuensi berdenyut ini hampir dapat dikatakan tidak membawa komplikasi. Cara ini tidak merugikan karena tidak merusak syaraf. Memang pada waktu jarum ditusukkan ke tubuh bisa terjadi perdarahan. Namun pada prakteknya, ini sangatlah jarang. Oleh karena itu bila memakai obat antikoagulan untuk mengencerkan darah sebelum terapi ini, dokter harus diberitahu terlebih dahulu.  Kemungkinan terjadi infeksi bisa dicegah bila prosedur ini dilakukan secara steril.

Nyeri yang mana?
Radiofrekuensi seperti halnya prosedur yang lain mempunyai indikasi dan kontraindikasi. Sebelum melakukan terapi radiofrekuensi perlu dipertimbangkan hal hal berikut:
•    nyeri sudah diterapi dengan pengobatan non invasif  namun tidak berhasil
•    faktor psikologis dan sosial tidak berpengaruh besar terhadap  persepsi nyeri
•    tidak ada ketergantungan narkotik
•    bukan nyeri karena gangguan syaraf pusat
•    lokasi nyeri konstan dan daerah nyeri terbatas
•    blok diagnostik positif

Sindroma nyeri kronik yang berhasil cukup baik terhadap terapi radiofrekuensi adalah
•    nyeri wajah /kepala jenis tertentu (trigeminal neuralgia, cluster headache)
•    nyeri kepala akibat kelainan/ gangguan syaraf leher
•    nyeri leher akibat kelainan sendi facet di leher
•    nyeri dari leher sampai ke bahu
•    nyeri kronis pada bahu
•    nyeri iga
•    nyeri pinggang akibat kelainan sendi facet di tulang pinggang
•    nyeri pinggang akibat syaraf teriritasi
•    nyeri pinggang akibat kelainan bantalan (disc) ruas antar tulang belakang
•    nyeri pinggang akibat gangguan sendi tulang kelangkang dan tulang panggul (sacroiliac joint)
•    nyeri tulang ekor (coccydynia)
•    nyeri akibat rangsang simpatis berlebihan (CRPS)
•    Chordotomi untuk nyeri kanker pada pasien terminal dari  leher kebawah  ( kanker paru, pankreas, saluran cerna, payudara, saluran kencing , organ reproduksi)

Dr Albertus Sugeng Wibisono Sp An,
Ahli anestesi RS Mitra Kemayoran Jakarta.

Jakarta, 14 Oktober 2010
Disusun oleh : Dr Albertus Sugeng Wibisono Sp An,
Ahli anestesi RS Mitra Kemayoran Jakarta.

Leave a Reply


seven − = 1