Informasi & Promosi

Dapatkan Informasi / Promosi Layanan Kesehatan RS. Mitra Kemayoran Dengan Mengisi Data Dibawah ini:


Headline

PENANGANAN ASFIKSIA PADA BAYI BARU LAHIR

Disampaikan oleh
Dr. Soenarto, SpA
Pada Simposium Ilmiah Bidan di RS Mitra Kemayoran
Sabtu, 7 Juli 2012

Asfiksia adalah keadaan dimana Bayi Baru Lahir tidak bernafas secara spontan dan teratur. Sering sekali seorang bayi yang mengalami gawat janin sebelum persalinan akan mengalami asfiksia sesudah persalinan. Masalah ini berkaitan dengan kondisi ibu, masalah pada tali pusat dan plasenta atau masalah pada bayi selama atau sesudah persalinan

Faktor ibu
Kurangnya aliran darah ibu melalui plasenta -> hipoksia janin -> gawat janin -> asfiksia :

  • Preeklampsia dan eklampsia
  • Perdarahan antepartum abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
  • Partus lama
  • Infeksi berat

Faktor bayi
Keadaan bayi yang dapat mengalami asfiksia walaupun kadang kadang tanpa didahului tanda gawat janin :

  • Bayi kurang bulan
  • Air ketuban bercampur mekonium
  • Kelainan kongenital yang memberi dampak pada pernapasan bayi

Faktor plasenta dan tali pusat
Penurunan aliran darah dan oksigen melalui tali pusat bayi -> asfiksia :

  • Infark plasenta
  • Hematom plasenta
  • Lilitan tali pusat

DIAGNOSIS
Anamnesis

  • Gangguan atau kesulitan waktu lahir (lilitan tali pusat, sungsang, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
  • Lahir tidak bernafas/menangis
  • Air ketuban bercampur mekonium

Pemeriksaan fisis

  • Bayi tidak bernapas atau napas megap-megap
  • Denyut jantung < 100 X/menit
  • Kulit sianosis, pucat
  • Tonus otot menurun

Hisap Lendir
Air ketuban bersih

  • Dari mulut ->  hidung
  • Sekitar orofaring, jangan terlalu dalam
  • Dengan penghisap lendir ->kateter masuk , maksimal 5 cm

Air ketuban bercampur mekonium

  • Begitu kepala lahir sebelum melahirkan bahu
  • Isap mulut dan hidung
  • Setelah kepala lahir :
    • Bugar : lanjutkan langkah awal
    • Tidak bugar : pasang pipa ET

Ventilasi Tekanan Positif

  • Bila bayi tidak bernapas lakukan ventilasi tekanan positif (VTP) dengan memakai balon dan sungkup selama 30 detik dengan kecepatan 40 – 60 kali per menit
  • Nilai bayi : usaha napas, warna kulit dan denyut jantung
  • Bila belum bernapas dan denyut jantung < 60 x/menit lanjutkan VTP dengan kompresi dada secara terkoordinasi selama 30 detik
  • Nilai bayi : usaha napas, warna kulit dan denyut jantung
  • Bila denyut jantung < 60 x/menit, beri epinefrin dan lanjutkan VTP dan kompresi dada Bila denyut jantung > 60 x/menit kompresi dada dihentikan, VTP dilanjutkan

Kompresi Dada

  • Indikasi : DJ < 60 x/mnt setelah VTP 30 dtk
  • Dilakukan bersama VTP & terkoordinasi
  • KD : VTP = 3 : 1 ( 90 KD, 30 VTP/mnt)
  • Dilakukan selama 30 detik

Nilai bayi

  • Usaha napas, warna kulit & denyut jantung

Terapi medikamentosa
Epinefrin
Indikasi

  • Denyut jantung bayi < 60 x/m setelah paling tidak 30 detik dilakukan ventilasi adekuat dan kompresi dada belum ada respons
  • Dosis : 0,1 – 0,3 ml/kg BB dalam larutan 1:10.000 (0,01 mg – 0,03 mg/kg BB)
  • Cara : IV atau endotrakeal, dapat diulang setiap 3 – 5 menit bila perlu


Cairan pengganti volume darah

Indikasi

  • Bayi mengalami hipovolemia dan tidak ada respon dengan resusitasi
  • Hipovolemia : akibat perdarahan atau syok, ( klinis ditandai adanya pucat, perfusi buruk, nadi kecil/lemah )
  • Jenis cairan :
  • Larutan kristaloid yang isotonis (NaCl 0,9%, Ringer Laktat)
  • Transfusi darah gol. O negatif jika diduga kehilangan darah banyak dan bila fasilitas tersedia
  • Dosis : dosis awal 10 ml/kg BB IV pelan selama 5 – 10 menit, dapat diulang sampai menunjukkan respon klinis

Natrium bikarbonat
Indikasi

  • Asidosis metabolik secara klinis (napas cepat dan dalam, sianosis)
  • Prasyarat : bayi telah dilakukan ventilasi dengan efektif
  • Dosis : 1 – 2 mEq/kg BB
  • Cara : diencerkan dengan aquabides atau dekstrose 5% sama banyak diberikan secara intravena dengan kecepatan minimal 2 menit
  • Efek samping : pada keadaan hiperosmolaritas dan kandungan CO2 dari bikarbonat merusak fungsi miokardium dan otak

Tindakan setelah resusitasi :

  • Pemantauan pasca resusitasi
  • Dekontaminasi, mencuci dan mensterilkan alat
  • Membuat catatan tindakan resusitasi
  • Konseling pada keluarga

Pemantauan pasca resusitasi :

  • Bayi harus dipantau secara khusus :
  • Bukan dirawat secara rawat gabung
  • Pantau tanda vital : pernapasan, jantung, kesadaran dan produksi urin
  • Jaga bayi agar senantiasa hangat
  • Bila tersedia fasilitas, periksa kadar gula darah

Kapan harus merujuk :

  1. Bila Puskesmas tidak mempunyai fasilitas lengkap
    • Rujuk bila bayi tidak memberi respons terhadap tindakan resusitasi selama 2 – 3 menit
  • Bila Puskesmas mempunyai fasilitas lengkap :
    • Rujuk bila telah dilakukan resusitasi secara lengkap, bayi tidak memberi respons
  • Bila oleh karena satu dan lain hal bayi tidak dapat dirujuk, lakukan tindakan paling optimal dan berikan dukungan emosional kepada ibu dan keluarga
  • Bila sampai dengan 10 menit bayi tidak dapat dirujuk :
    • Jelaskan kepada orang tua tentang prognosis bayi yang kurang baik dan pertimbangan manfaat rujukan untuk bayi ini

Kapan menghentikan resusitasi?
Resusitasi dinilai tidak berhasil jika :

  • Bayi tidak bernapas spontan
  • Tidak terdengar denyut jantung
  • Setelah dilakukan resusitasi secara efektif selama 15 menit.

Leave a Reply


7 − two =